![]() |
Di sebuah sekolah menengah yang ramai,
terdapat seorang pelajar bernama Agam Putra Agnibrata kala sering di
panggil Agam. Agam adalah siswa kelas 12 yang cerdas, namun ia tidak hanya
dikenal karena prestasinya saja di kelas nya, tetapi juga karena kepribadian
hangatnya kepada semua orang di sekitarnya. Agam tumbuh dalam keluarga yang
sederhana, tetapi impian besar selalu membara dalam dirinya. Sejak kecil, Agam
bercita-cita menjadi seorang Prajurit Tentara Nasional Indonesia. Agam seorang
anak yang di besarkan tanpa ayah, beliau meninggal waktu putra nya masih
berusia 3 tahun. Mimpi ini adalah cerminan dari pekerjaan ayah nya dulu kala,
karena penempatan tugas di wilayah Papua belum juga 1 tahun sudah ada kabar
bahwa ayah nya terkena tembakan senapan angin pcp dilaporkan terlibat
kontak tembak dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB). Insiden tersebut mengakibatkan
3 anggota TNI gugur termasuk ayahnya dan dari sini Agam mencoba ingin
menggantikan posisi ayahnya. Setiap hari, Agam selalu menyapa
teman-temannya dengan senyuman yang tulus. Pagi itu, di ruang kelas yang
penuh semangat, Agam duduk di meja belakang. Ada ujian besar yang menantang.
Agam bersama teman-temannya saling membantu dan belajar bersama di perpustakaan
sekolah, meskipun tegang mereka saling memberi dukungan dan semangat.
Rintangan demi rintangan telah Agam lalui,
dirinya sudah berlatih segala persiapan yang akan di uji sewaktu tes Akmil
nanti. Namun, berbagai masalah datang bertubi-tubi, entah itu ringan atau
berat, meskipun begitu Agam tidak pernah mengeluh. "Nak, gimana dengan
mimpi mu itu, apakah masih ingin menjadi seorang prajurin seperti ayah
mu?" tanya ibu setelah memasak dan sambil menyiapkan lauk pauk untuk
makan siang hari ini. Agam yang sedang belajar, mengalihkan pandangannya
menatap sang ibu, "Iya bu, Agam hanya meminta doa restu dari ibu saja,
Agam yakin mampu meraihnya," ucap Agam, dirinya berpindah tempat duduk di
sebelah dan memegang tangan nya sang ibu. "Doa ibu selalu menyertai
mu nak, jangan menyerah dan ingat berdoa kepada Tuhan agar jalanmu di
permudah."
Tak terasa hari terus berlalu, saat malam
kelulusan tiba, Agam bersama teman-temannya mengenakan seragam kebesaran
sekolah. Mereka duduk bersama di aula sekolah, mengenang momen-momen indah
selama tiga tahun perjalanan mereka sebagai pelajar. Selepas hari
kelulusan nya, pagi ini waktunya Agam mendaftar ke Akademi Militer dengan
semangat yang membara. Namun sebelum itu, Agam melakukan cek kesehatan di rumah
sakit terdekat, ternyata dokter mengatakan bahwa ada varises di bagian kaki
kiri dan untuk menghilangkannya butuh suntikan yang harga naya belum pasti
berapa. Agam pulang dengan membawa berkas hasil lab nya, dirinya bingun dapat
uang dari mana untuk menghilangkan varises ini, apakah mimpi ini tidak bisa
terwujud suatu saat nanti. Agam berharap ada mukjizat yang membantu jalannya
ini.
Sore hari, sudah terlihat matahari mulai
tenggelam senja pun terlihat indah di ufuk barat, Agam melihat nya dengan
mata teduh dan penuh harapan besar dalam dirinya. Entah kenapa, rasanya sangat
sulit, ini masih awalan belum langkah kedepannya lagi. Tiba-tiba ada hal tak
terduga datang, seorang anak kecil yang menangis di bawah pohon, Agam yang
melihat itu pun menghampiri nya dan bertanya, "Hai, kenapa menangis dan ke
sini dengan siapa?" Agam tau bahwa anak ini sekarang sendirian, tapi siapa
yang rela meninggalkan nya di saat langit mulai gelap. "Hikss aku
sendirian kak, tadi kesini bareng sama mama papa, tapi waktu aku di suruh
tunggu di sana, aku malah lari-lari dan sekarang ga tau mau kemana kak,"
pinta anak itu. Agam merasa kasihan dan sekarang dirinya bingung harus
bagaimana, "Gitu ya, gimana kalo sekarang ikut kakak pulang, kamu tau ini
udah mau malam, kalo kita cari papa dan mama pasti sulit nanti. Tenang aja
kakak bukan orang jahat kok, dan nama kakak Agam kalo kamu siapa?" ujar
Agam yang melihat anak itu sepertinya takut dengan dirinya. "Nama aku
Alby," jawab anak itu. Agam tersenyum dan kembali bertanya "Jadi mau
ga ikut kakak?" Alby pun tersenyum kembali dan membalas uluran tangan
Agam.
Rumah nya tak begitu bagus, hanya rumah
sederhana dengan kehangatan di dalamnya. Agam membawa Albi masuk ke rumah nya,
"Assalamualaikum," bunyi suara luar saat Agam mulai melangkahkan kaki
nya sambil membuka pintu rumahnya, terlihat ibu nnya yang sedang menunggunya di
ruang tengah sedang menjahit, saat sang ibu menengok ke depan alangkah
terkejutnya bahwa putra nya membawa seorang anak balita ke rumahnya.
"Siapa ini nak?" tanya ibu mencoba menghampiri Agam dan Alby ke arah
pintu. "Nanti Agam ceritakan ya bu, kasihan ini kayaknya belum makan deh,
biarkan dirinya masuk dulu dan istirahat di dalam. Agam minta tolong kita jaga
dia di sini dulu," tutur Agam, ibu nya seakan-akan mengerti dan
mempersilahkan anak itu masuk. Malam pun tiba, di lihat-lihat Alby seperti
kelelahan hari ini, dirinya tidur di kamar Agam dengan tenang, lalu Agam segera
menemui ibu nya untuk memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi, Agam tidak
mau jika nanti ada kesalapahaman di balik semua ini.
“Bolehkah Agam berbicara sebentar dengan ibu,”
tanya Agam saat tau ibu nya kini sedang memandang Alby dari luar pintu kamar
Agam, kemudian ibu nya berbalik dan melempar senyum kepada putra nya. Agam
menganggukkan kepala seakan paham tatapan ibu nya, lalu mereka duduk di teras
rumah dan di temani angin malam yang dingin. “Ibu, Agam akan menceritakan gimana
bisa Agam membawa anak laki-laki itu ke sini. Tadi, waktu Agam main ke pantai,
tidak sengaja ada anak itu yang sedang sendirian, dia bernama Alby ibu, orang
tua nya tak tau kemana, jadi Agam meminta ijin untuk membawa Alby pulang kemari,”
jelas Agam, lalu ibu nya pun menoleh ke Agam dan berkata, “Tidak masalah jika
kamu ingin menolong anak ini, namun jangan biarkan dia berpisah dengan orang
tua nya begitu lama, kasihan mereka pasti juga kebingungan dan khawatir,” ujar
sang ibu menasehati Agam.
Pagi
yang cerah, dan suara kicauan burung bersahutan kesana kemari. Alby bangun dari
tidurnya dan meracau memanggil nama mama nya, “Mama..mama.” Agam mendengarkan
suara itu dan lalu menghampirinya untuk menanyakannya, “Ada apa Alby?” tetap
saja Alby yang memanggil nama mama nya, Agam semakin merasa kasihan dengan anak
ini, dan berniat untuk mencari tau siapa orang tua nya, hingga saat ini Agam
langsung bersiap dan bergegas keluar, namun sebelum itu diri nya berpamitan ke
ibu nya, “Ibu, Agam pamit mau keluar dulu dan Agam titip Alby ya tolong jaga dia,”
ucap Agam sambil menyalami tangan ibu nya.
Tak
ada jalan lain, Agam pergi ke kantor polisi terdekat untuk mengajukan bahwa
dirinya menemukan seorang anak laki-laki kemarin, mungkin dengan bantuan polisi
Agam mampu menemukan siapa kedua orang tua nya. Saat kepala polisi keluar dari
ruangan untuk menemui Agam tiba-tiba saja bertanya siapa nama anak itu kemudian
Agam menjawab, “Alby dan ini foto anaknya,” bapak polisi tersebut pun kaget seakan-akan ada
perkataan yang membuatnya tau siapa ini, dengan cepat bapak polisi tersebut memeluk
Agam, dirinya tidak mengerti dengan perlakuaan bapak polisi ini, namun beliau
berkata, “Itu pasti anak saya nak, karena kemarin sore saya kehilangan putra
kecil saya,” pinta bapak itu. Hati Agam rasanya sangat senang, entah mengapa
setelah kabar ini dirinya merasa bahagia, akhirnya anak kecil itu bisa bertemu
dengan orang tua nya, untuk memastikan apakah benar Agam mengajak bapak polisi
tersebut ke rumahnya.
Perjalanan
tidak begitu jauh, dengan menggukan mobil sang bapak, Agam juga berbincang-bincang
saat di perjalanan. “Kamu umur berapa nak?” tanya bapak itu kepada Agam, dan
agam menjawab, “Saya baru lulus SMA tahun ini pak, dan masih berusia 18 tahun.”
Bapak tersebut pun menoleh menatap Agam sebentar dan mengalihkan pandangan nya
ke jalanan. “Lalu mau lanjut kemana rencana nya?” tanya nya lagi, saat ini Agam
harus menjawab namun hati seakan runtuh dengan mimpi nya, “Niat awal saya ingin
mendaftarkan diri ke Akademi Militer, namun ada sebuah halangan yang membuat
saya bimbang dengan mimpi ini,” sambung Agam, menjelaskan apa yang dirinya
alami saat ini. Bapak itu pun bertanya kembali, kenapa Agam bimbang, kalau memang
yakin raih dan janganlah menyerah, tetap saja Agam kebingungan untuk
menjelaskan nya. “Sebelum saya mengikuti pendaftaran, saya sempat ke rumah
sakit untuk cek kesehatan, dan saat itulah dokter berkata jika di kaki salah
ada varises untuk penyembuhannya harus di suntik, tapi saya masih belum cukup
uang, pasti biaya nya nanti mahal,” jelas Agam sedikit terbuka.
Mobil terparkir di depan rumah Agam, dan di sambut dengan ibu nya yang membukakan pintu rumahnya dan di susul Alby dari arah belakang. Alby berlari keluar dan berteriak, “Ayah..,” sambil memeluk sang ayah. Senyum Agam dan ibu mengembang melihat hal ini, mereka seperti tidak bertemu 100 hari lamanya. Beliau mengucapkan begitu banyak terima kasih, entah imbalan apa yang pantas di berikan untuk kedua orang di depannya. Saat ide terlintas, sang bapak menawarkan ajakan untuk membantu nya masuk di akademi militer, Agam pun jelas menerima tawaran ini. Pada akhirnya dirinya mulai mengikuti bimbel dan varises yang dulu harus di hilangkan sekarang sudah hilang dan mampu mengikuti tes. Ketekunan dan kegigihan Agam tak bisa di nilai semena-mena, dirinya mulai mengikuti tes dari awal dari akhir sampai dirinya di nyatakan lolos di Akademi Militer. Kabar ini sampai di telinga ibu nya, betapa bahagia dan bangga kepada putra satu-satu nya ini, mungkin butuh 4 tahun untuk pendidikannya nanti, dan Agam akan berpisah dengan sang ibu demi mewujudkan cita-cita nya.
Setiap pelajaran dan latihan fisik di akademi
dijalani dengan tekun. Teman-teman seangkatannya menjadi keluarga kedua
baginya, dan mereka bersama-sama menghadapi tantangan untuk menjadi tentara
yang profesional. Rintangan demi rintangan Angkasa lewati selama 4 tahun
ini, hingga cita-cita nya terwujud. Tak tau suatu keajaiban saat
dirinya di tempatkan di kota asalnya. Ia melangkah dengan tegar, membawa
semangat dan dedikasinya untuk menjaga keamanan masyarakat. Dalam setiap
tindakan dan keputusan, Agam selalu mengedepankan nilai-nilai keadilan dan
kemanusiaan. Ia menyadari bahwa menjadi tentara adalah tanggung jawab besar,
dan ia siap mengemban misi mulia tersebut dengan penuh integritas. Agam
harus terus pantang menyera, tak kala itu, perjalanan tidak berakhir
sampai titik ini namun masih panjang lagi. Hari demi hari telah Agam lewati,
hingga membuahkan hasil indah. Di mulai hanya sekedar impian hingga sekarang
menjadi kenyataan. Teruslah meraih mimpi, ingat kalian masih muda, jangan
menyerah untuk itu, pasti setiap anak punya cita-cita, maka gapai dan berdoa
untuk bekal kalian nanti.
***
Bagi saya sebagai penulis cerpen ini, merasa iba dalam tokoh utama nya. Berdoa, berusaha, bersabar, dan jika memang sudah waktunya, Allah akan hadiahkan hal indah yang tidak pernah kamu bayangkan, sama seperti Agam yang pantang menyerah meski berbagai rintangan datang bertubi-tubi, dan Agam tida ingin jika impiannya menjadi khayalan semata, dirinya memastikan dalam proses nya selama inintidak akan sia-sia saja.
-Happy Ending-
.png)
Komentar
Posting Komentar