Sore itu suara kicau burung
bersahut-sahutan menembus kamar Fajar. Ya disana, tinggal seorang pemuda
bernama Fajar yang duduk di bangku SMA kelas 12. Setiap sore, ia naik ke bukit
untuk menikmati keindahan senja di pantai, yang terlihat indah di hidupnya,
mimpi-mimpi, dan harapannya. Fajar duduk di salah satu pohon rindang, merenungi
keindahan senja dari atas yang berwarna merah jambu. Ombak berdenting di
telinga, seperti nyanyian alam yang mimikat hatiku. Alunan musik Nadhif
Basalamah terdengar lirih di telingaku. Ketika senja mulai meredup, Fajar mulai
merenung tentang hidupnya. Ada begitu banyak kenangan yang terpati dalam
senja-senja seperti ini. Kenangan indah bersama teman-teman, keluarga, dan
cinta pertama ku. Namun, ada juga kesedihan yang terkubur dalam senja.
Kehilangan yang tak terlupakan, kata-kata yang terucap, penyesalan yang tak
dapat terlupakan, dan mimpi yang belum terwujud.
Fajar menyadari bahwa senja
adalah metafora kehidupan. Terkadang cerah dan indah, namun kadang juga suram
dan penuh tantangan seperti hidupku saat ini. Fajar adalah namaku, arti yang
terbesit di dalam nama ini, "Pada saat tergelap bumi, butuh ruang dan
waktu untuk melihat cintaku ada, dan menyadari kita tidak sendirian," ya
aku tidak sendirian karena jika ada fajar di pagi hari pasti sore hari akan ada
senja. "Aku harus bisa dan diriku tidak boleh berhenti, selagi mampu
menyelesaikan apa yang sudah ku mulai," gumam fajar dalam hati yang tau
bahwa diri nya memang banyak kekurangannya. Namun, apa mungkin ada suatu
keajaiban di balik ini, aku juga harus membantu orang tuaku mencari uang untuk
biaya ku ini. Ibu nya pernah berkata, "Jika suatu saat nanti ibu tidak
bisa memberikan uang saku untuk kamu melanjutkan study lanjut ini, maafkan ibu
mu ini nak, tapi ibu berdoa agar kamu bisa menggapainya."
Program Studi Astronomi adalah
mimpiku, aku akan menempuh pendidikan ini di Institut Teknologi Bandung. Dunia
luar angkasa memang indah, namun hanya di bumi yang ku tepati dan orang huni.
Lantas mengapa aku ingin mengarungi luar angkasa. Senja dan angkasa raya, ku
akan gapai dengan ceritaku sendiri. Sakit rasanya aku menjalani hariku ini.
Sebelum ku gapai, apakah diriku masih bisa ada di dunia ini dengan kalian
semua. Leukimia stadium awal, penyakit yang menyerang tubuhku. Tetapi, aku
tidak patah semangat, selama ini berbagai cobaan telah ku lewati. Fajar yakin
setelah ini akan ada kejutan besar untuknya. "Apa aku harus memberi tau
mereka tentang penyakit yang aku alami saat ini, pasti mereka sedih dan bingung
mencari uang lagi untuk biaya pengobatanku."
Senja telah menjadi teman ku,
tempat aku mencurahkan isi pikiran dan hati, dan mengajarkan padaku bahwa hidup
adalah perjalanan yang penuh warna. Fajar siap menghadapinya dengan rasa
syukur, sebelum diriku bersujud dengan gelar yang ku raih di depan kedua orang
tuaku suatu saat nanti. "Jika orang lain bisa membanggakan orang tua
mereka, kenapa aku tidak bisa. Hanya usaha dan doa yang menemani perjalanan
hidupku kali ini, berilah aku kemudahan untuk segala hal yang ku perbuat,"
ujar Fajar sambil melanjutkan langkahnya, merasakan bahwa betapa berat nya
perjalanan hidup nya kali ini.
Di rasa langit sudah mulai
gelap, dan malam pun akan tiba, bulan mulai nampak di langit dan
bintang-bintang yang akan menjadi penerang bumi. Akhirnya Fajar bangkit dari
pohon rindang, dengan senyum kecil yang terukir di wajah, dirinya mulai kembali
ke rumah, dan belajar karena bagi dirinya, jika belajar dimasa muda akan
membuahkan hasil yang indah kelak nanti. Kedatangan nya, di sambut oleh kedua
orang tua nya dengan sehangat pelukan. Sesayang itu mereka dengan diriku, dan
aku tidak boleh mengecewakan mereka. Aku bahagia, memiliki keluarga yang
lengkap, ya meskipun ekonomi keluarga ini sebatas sederhana, tapi kebutuhanku
selalu teecukupi. Fajar dan kedua orang tua nya makan bersama, kebahagiaan
menyellimuti keluarga itu dan selama nya akan seperti itu.
Kisah ini dapat kita ambil
pesan moral. Perjalanan hidup memang tak seindah kita memimpikan saja tanpa
bertindak. Setidaknya, kita mendapatkan hikmah dari ujian atau berbagai
rintangan yang bisa kita lewati dengan di iringi usaha meskipun kita memiliki kekurangan
atau keterbatasan dan jangan lupa terbukalah apa yang ada di isi pikiran dan
hatimu, jangan kau tanam di diri kalian hingga menjadi pohon. Seperti lagu di
dalam cerpen tersebut milik Nadhif Basamalah di bagian lirik, "Kan ku
arungi tujuh laut samudra, kan ku daki pegunungan himalaya," semua akan
bisa jika kalian mencoba tanpa modal berbicara dan bermimpi saja.
-Happy Ending-
Heii...heii kawan, si penulis baru saja update cerita baru, anyway kalian pasti tau senja siapa sih yang ga tau senja apalagi anak remaja sekarang. Pantai adalah tempat yang menyenangkan, kita bisa melihat deburan ombak dan orang-orang yang bermain di tepi pantai. Si penulis juga pernag mengalami itu, sungguh betapa berbinarnya wajahku saat itu, antara tawa lepas yang keluar hingga diriku lega. Berbagai masalah yang aku punya seakan hilang begitu saja, sama seperti Fajar yang memiliki berbagai masalah namun tidak pernah mengeluh dan terus melangkah ke depan.
Nextt, dari cerita pendek di atas, pesan apa yang kalian dapatkan dan mungkin dapat kalian cerminkan di kehidupan nyata kalian.
***
.png)
Komentar
Posting Komentar